CORAK KEHIDUPAN MASYARAKAT PRAAKSARA DI INDONESIA
Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana
Salah satu ciri utama dalam dalam kehidupan masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana adalah hidup berkelompok kecil. Di Indonesia cara berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana dialami oleh manusia jenis Pithecanthropus dan manusia Wajak. Ketergantungan manusia purba pada alam begitu besar sehingga menyebabkan manusia pada masa itu hidup berpindah-pindah (nomaden). Tujuannya untuk mencari lokasi atau daerah-daerah yang mampu mensuplai kebutuhan makanan yang mereka butuhkan. Apabila daerah yang telah disinggahi mulai menipis atau mungkin habis sumber persediaan makanannya, maka mereka akan mencari tempat baru lagi guna mendapatkan sumber makanan. Oleh karena itu, tempat-tempat yang menarik untuk didiami pada waktu itu adalah tempat yang cukup mengandung bahan makanan dan air, terutama di daerah sekitar tempat-tempat yang sering dikunjungi atau dilalui binatang. Tempat-tempat semacam itu berupa padang-padang rumput dengan semak belukar, dan hutan kecil yang terletak berdekatan dengan sungai atau danau.Sekitar lokasi tersebut pula, manusia membuat tempat berlindung sederhana yang terbuat dari dahan-dahan dan dedaunan serta tinggal berkelompok dengan jumlah anggota kelompok yang sedikit (kelompok kecil). Dengan hidup berkelompok, hubungan anggota kelompok sangat erat. Selain itu, mereka akan lebih mudah untuk berburu dan mengumpulkan makanan serta mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain atau binatang buas. Selain ancaman dari kelompok lain dan binatang buas, pada waktu itu ancaman juga muncul dari alam. Banyak terjadi letusan-letusan gunung api dan kondisi alam yang belum stabil. Bahkan menurut hasil penelitian, dalam lapisan lahar ditemukan sisa-sisa kehidupan manusia Pithecanthropus yang terbawa oleh lahar letusan gunung berapi bersama dengan tulang-tulang hewan besar. Kondisi alam inilah yang menjadi salah satu sebab tidak berkembangnya kehidupan manusia purba pada waktu itu.
Dengan adanya pola kehidupan semacam itu, pada masa berburu dan mengumpulkan makanan dibutuhkan kekuatan dan kemampuan fisik yang kuat. Hal ini dikarenakan untuk menghadapi tantangan alam yang ganas dan harus menghadapi berbagai ancaman dari berbagai sumber. Oleh karena itu, untuk menyesuaikan dengan kehidupan alam yang ganas dan berpindah-pindah untuk keberhasilan perburuan, diperkirakan pada waktu itu manusia membatasi jumlah anggota kelompoknya dengan memusnahkan anak-anak yang baru lahir, terutama anak perempuan. Kematian anak-anak pada waktu dilahirkan dan berbagai penyakit yang menimpa anggota kelompok juga menjadi penyebab kecilnya anggota kelompok. Hal tersebut di atas juga menjadi faktor lambatnya perkembangan manusia pada waktu itu.
Ketika melakukan perburuan, manusia pada waktu itu menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu, kayu, dan tulang belulang sisa hewan buruan mereka. Selain dengan berburu secara langsung, mereka juga biasanya membuat lubang-lubang jebakan di tanah atau menggiring hewan buruan bereka ke arah jurang yang terjal, sehingga mempermudah mereka untuk memburu hewan sasaran. Hasil buruan kemudian dibagikan kepada anggota kelompok berburu. Biasanya kegiatan berburu ini dilakukan oleh kelompok kecil yang terdiri dari kaum laki-laki dari masing-masing keluarga dalam kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya telah terdapat pembagian kerja dalam sebuah keluarga dan juga kelompok.
Ketika kaum laki-laki sedang berburu hewan sebagai sumber makanan, kaum perempuan dalam kelompok akan mengumpulkan makanan berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil yang dapat diburu tanpa mengeluarkan tenaga yang terlalu besar. Di samping itu, kaum perempuan juga mengurus dan merawat anak-anak. Tidak hanya dalam kehidupan manusia modern saat ini, peran penting kaum perempuan dalam sebuah keluarga juga telah berlangsung pada masa berburu dan mengumpulkan makanan. Kaum perempuan dalam kelompok juga berperan dalam memilih tumbuh-tumbuhan yang dimakan dan membimbing anak-anak dalam meramu. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan berperan dalam menentukan keberlangsungan hidup sebuah kelompok (Herimanto, 2012:80).
Setelah api ditemukan, perempuan sebagai peramu kemudian menemukan cara-cara memanasi makanan dan berkewajiban menjaga dan memelihara api. Kewajiban-kewajiban inilah yang menghambat perembuan untuk mengikuti perburuan di daerah luar dan sedikit banyak mengurangi gerak berpindah kelompok. Namun, karena perhatian perempuan lebih banyak ditujukan ke lingkungan yang terbatas, mereka kemudian mampu memperluas pengetahuannya tentang seluk beluk tumbuh-tumbuhan, meningkatkan cara menyiapkan makanan, dan mendidik anak-anak dalam mempersiapkan diri mengenal keadaan dan lingkungan alam sekitarnya.
Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut berlangsung pasca kala Plestosein. Corak hidup pada masa ini masih terpengaruh dari masa sebelumnya. Keadaan lingkungan pada masa pasca Plestosein tidak banyak berbeda dengan masa sebelumnya. Faktor-faktor alam seperti iklim, kesuburan tanah dan keadaan fauna sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia purba. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat di alam sekitar tetap dilanjutkan. Ini terbukti dari bentuk alat yang masih terbuat dari batu, tulang, kayu dan kulit kerang. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan merupakan cara hidup yang cocok pada waktu itu, mengingat kondisi alam dan pola pikir manusia yang masih primitif.Di Indoenesia sendiri, mulai timbul usaha-usaha untuk terempat tinggal secara tidak tetap (semi sedenter) di dalam gua-gua alam (caves) atau gua-gua payung atau curuk (rock-shelter) yang ada di tepi pantai (Poeponegoro, 2010:141). Gua yang menjadi tempat tinggal merupakan gua yang dekat dengan sumber air atau berdekatan dengan sungai yang mengandung sumber-sumber kelangsungan hidup. Sewaktu-waktu gua tersebut dapat ditinggalkan dan berpindah ketempat lain, apabila sumber makanan di lokasi tersebut sudah tidak mampu mendukung keberlangsungan hidup mereka.
Teknologi yang digunakan pada saat itu merupakan kelanjutan dari teknologi pada masa sebelumnya. Pembuatan alat-lat batu inti menghasilkan kapak genggam Sumatera dan kapak pendek di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk alat serpih-bilah dan alat tulang menjadi alat bantu yang semakin meningkat teknologi pembuatannya. Alat bantu ini memeprlihatkan teknik pembuatan yang semakin kompleks dan rumit. Alat-alat tersbut menunjukkan adanya kegiatan perburuan terhadap hewan-hewan kecil. Disamping alat-alat yang terbuat dari batu, tulang, tanduk dan kulit kerang, pada masa ini mungkin sekali dibuat alat-alat dari bambu.
Diduga bahwa bambu memegang peran penting dalam masa berburu dan mengumpulkan makanan tinggat lanjut ini. Hal ini karena bambu sangat mudah untuk diolah untuk dijadikan bermacam-macam alat keperluan sehari-hari. Penemuan api dan perkembangan teknologi pertanian merupakan proses pembaharian yang membentuk dasar kebudayaan. Penggunaan api oleh manusia tidak hanya menjadi awal kehidupan sosial, tetapi akhirnya juga melahirkan serentetan teknologi yang saling berhubungan. Penemuan dan pemanfaatan api oleh manusia purba menjadi bagian dari proses perentangan persediaan pangan.
Berdasarkan penelitian pertanggalan karbon, telah ditemukan cikal-bakal pertanian pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Hal ini terbukti dengan ditemukannya sisa-sisa butiran dan sekam padi yang berasosiasi dengan gerabah pada kurun waktu 2160-1700 SM di Gua Ulu Leang 1, Maros Sulawesi Selatan. Bukti tersebut menujukkan bahwa telah ada domestifikasi tanaman, dalam hal ini padi pada masa itu. Selain padi, ditemukan juga adanya kultivasi tanaman buah-buahan dan kacang-kacangan di Indonesia. Semua bukti tersebut ditemukan di komplek gua Maros Sulawesi Selatan.
Ketika bertempat tinggal di dalam goa, selain membuat alat yang diperlukan, mereka juga melukiskan sesuatu di dinding gua. Lukisan tersebut biasanya tentang pengalaman, perjuangan, dan harapan hidup. Kemudian cap-cap tangan juga dibuat dengan dengan cara merentangkan jari-jari tangan di permukaan dinding gua atau dinding karang yang kemudian disiram dengan cat merah. Sumber inspirasi dari lukisan-lukisan meraka adalah cara mereka hidup ketergantungan pada alam. Dengan demikian lukisan-lukisan dinding gua tersebut melukiskan kehidupan sosial ekonomi dan alam kepercayaan manusia pada waktu itu.
Berdasarkan sebuah penelitian mengenai gambar telapak tangan pada gua-gua pra sejarah di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan ditemukan beberapa pola gambar telapak tangan diantaranya (a) gambar telapak tangan tanpa pergelangan, (b) gambar telapak tangan yang memiliki lima jari, (c) gambar tepak tangan yang berukuran besar atau dewasa, (d) gambar telapak tangan yang berorientasi ke-atas, (e) gambar telapak tangan yang berwarna coklat, (f) gambar telapak tangan yang tersusun dalam kelompok secara acak, dan (g) gambar telapak tangan yang memiliki konteks telapak tangan lain. Berdasarkan hal tersebit, dapat digambarkan bahwa pola gambar telapak tangan tersebut adalah telapak tangan orang dewasa beroreintasi ke-atas. Selain itu, gambar telapak tangan tersebut juga mempunyai pola telapak tangan berwarna coklat, tersusun secara acak, dan memili konteks gambar telapak tengan lain. Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat berbagi aspek bentuk cap telapak tangan. Cap telapak tangan ini merupakan suatu kesan, yang secara mekanik dibauat dari suatu bagian alamiah dari budaya yang bersifat individu (Permana, 2005:172).
Pada masa itu, kehidupan bercocok tanam sederhana mulai muncul. Kegiatan bercocok tanam dilakukan berpindah-pindah menurut keadaan kesuburan tanah. Hutan atau padang rumbut yang akan dijadikan lahan pertanian dirambah dahulu dengan sistem tebang dan kemudian dibakar. Di lahan tersebut, mereka menanam umbi-umbian seperti keladi. Mereka juga sudah menanam satu jenis padi liar yang didapatkan di hutan. Setelah masa panen selesai, lahan pertanian tersebut mereka tinggalkan dan berpindah ketempat yang baru dan hidup seperti di tempat sebelumnya. Sewaktu-waktu mereka juga dapat kembali lagi ke lahan atau lokasi tempat tinggal yang pernah mereka tinggalkan dulu.
Masa Bercocok Tanam dan Beternak
Pada masa ini masyarakat mulai menunjukkan tanda-tanda menetap di suatu tempat serta mengembangkan penghidupan baru berupa kegiatan bercocok tanam sederhana dan penjinakan beberapa hewan tertentu. Lokasi tempat mereka tinggal terlihat mulai mendiami lokasi terbuka yang dekat dengan air seperti pinggiran sungai, tepian danau dan daerah pantai. Lokasi yang mereka diami adalah tempat-tempat yang agak tinggi dan bukit-bukit kecil yang dikelilingi oleh sungai atau jurang serta dipagar oleh hutan. Tujuannya adalah untuk melindungi diri dari serangan musuh dan gangguan binatang buas. Terkadang untuk tujuan tersebut dibuat parit dan tanggul pertahanan di sekeliling tempat tinggal.
Seperti yang telah diungkapkan di atas, pada awal bercocok tanam, mereka melaksanakan perladangan berpindah atau pertanian lahan kering (shifting cultivation). Pelaksanaan sistem ini dilakukan dengan cara membuka hutan untuk ditanami dan mereka akan berpindah lokasi pertanian ke lahan yang lain apabila di rasa lahan yang mereka tanamin sudah tidak produktif lagi. Sistem perladangan dapat dilaksanakan oleh mereka ketika jumlah penduduknya masih sedikit dan huta sebagai lahan pertanian masih luas. Pada masa bercocok tanam terjadi peningkatan jumlah penduduk, sehingga berakibat pada semakin tingginya kebutuhan bahan makanan. Akibatnya sistem perladangan lambat laun semakin tidak efektif lagi ditambah dengan lahan pertanian yang banya diubah menjadi lahan pemukiman. Akhirnya masyarakat awal mulai memikirkan cara mengatasi hal ini dengan jalan pertanian yang menetap dan mempertahankan kesuburan tanah dengan pemupukan.
Ketika masa bercocok tanam berlangsung, terjadi perubahan tata kehidudupan yang ditandai perubahan cara memenuhi kebutuhan hidup yang berlangsung secara perlahan-lahan. Begitu pula dengan pada bentuk tempat tinggal. Para peneliti berasumsi bahwa pada waktu itu telah terbentuk desa-desa kecil semacam pedukuhan. Pada setiap dukuh terdapat beberapa tempat tinggal (rumah) yang dibangun secara tidak beraturan. Rumah yang dibangun agak kecil berdekatan dengan tanah dengan atap berbentuk bulat kerucut yang terbuat dari dedaunan dan atapnya langsung menempel pada tanah. Rumah semacam itu hanya dapat didiami oleh beberapa orang. Bentuk semacam ini diyakini sebagai bentuk yang tertua dan sampai sekarang masih bisa dijumpai di beberapa wilayah timur Indonesia seperti di Papua, Kalimantan Barat, Nikobar, dan Andaman.
Pada masa ini, anak-anak dan para perempuan mulai mendapat tempat dalam kegiatan tertentu. Telah ada pembagian tugas yang jelas antara kaum laki-laki dan perempuan yang lebih terorganisir. Dengan dikenalnya cara-cara bercocok tanam, ada dua hal penting erat hubungannya dengan tumbuhnya suatu masyarakat dan berkembangnya peradaban, yaitu telah ada masyarakat yang bertempat tinggal agak menetap dan kedua, adanya jeda waktu yang lama kelompok tinggal di suatu tempat mengakibatkan timbulnya ikatan sosial antarindividu, antarkeluarga dan antar kelompok yang lebih luas. Sistem kepemimpinan mulai berlaku dalam sebuah kelompok. Pemimpin dipilih berdasarkan prinsip primus inter pares yang menandakan bahwa pemimpin tersebut dipilih diantara mereka yang memeliki kelebihan fisik (kuat) maupun spritual (keahlian).
Disamping berkembangnya kehidupan sosial manusia, pada waktu itu berkembang juga sistem perekonomian dalam kehidupan masyarakat purba. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup, dikenal sistem perdagangan dengan sistem barter. Barang-barang yang dipertukarkan adalah hasil cocok tanam, hasil kerajinan tangan seperti gerabah, beliung, dan perhiasan, atau mungkin pula garam dan ikan laut yang diasinkan dan dikeringkan. Barang-barang yang dipertukarkan atau menjadi barang barter, diangkut dalam jarak yang sangat jauh melalui jalur sungai, laut dan darat. Perahu dan rakit menjadi saran penting dalam lalu lintas perdagangan, karena sebagian besar kegiatan perdagangan melalui sungai dan laut.
Selain pertanian, mata pencaharian yang dikembangkan adalah perikanan. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kehidupan berburu, dimana manusia mengambil bahan makanan yang ada di alam dalam rangka memenuhi kehidupannya. Munculnya kelompok masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan dimulai ketika mereka berpindah ke tempat sekitar muara sungai atau pesisir laut. Pada awalnya mereka berburu ikan saja, namun seiring dengan bertambahnya penduduk karena tingkat kelahiran yang tinggi, berakibat teknik berburu disekitar muara sungai dan pantai sudah tidak mencukupi kebutuhan lagi, maka mereka pun mulai melirik tengah laut dan menyusuri sepanjang sungai untuk mendapatkan ikan dengan menggunakan perahu sebagai alat bantu sehingga berkembanglah kebudayaan nelayan.
Kegiatan nelayan ini sangat tergantung pada alam, karena mereka tidak membudidayakan ikan di laut. Selain itu, pada waktu atau keadaan tertentu mereka tidak bisa melaut, misalnya pada saat bulan purnama, adanya badai dan perubahan arah angin. Oleh karena itu mereka mulai berpikir untuk mengembangkan ikan sendiri di kolam-kolam ikan tepi pantai berupa tambak-tambak yang mendapatkan air pada saat pasang dan hujan. Sejak saat itu, berkembanglah kebudayaan mengembangbiakkan ikan di tambak yang berarti mereka telah berusaha melepaskan diri dari ketergantungan pada alam (food producing).
Konsepsi kepercayaan terhadap roh nenek moyang (animisme) dan benda-benda gaib (dinamisme) mulai berkembang (Noor, 2015:102). Roh dianggap mempunyai kehidupan sendiri dialamnya seperti layaknya manusia yang masih hidup. Hal ini terlihat dari prosesi upacara penguburan. Pelaksanaan penguburan dilakukan dilakukan dengan cara langsung maupun tidak langsung ditempat yang sering dihubungkan dengan asal usul anggota atau tempat yang dianggap sebagai tempat tinggal roh nenek moyang. Ketika prosesi penguburan, jasad akan dibekali dengan berbagai benda yang dianggap nantinya akan berguna di alam mereka dan terjamin kehidupannya. Benda-benda tersebut seperti perhiasan dan priuk dikubur bersama dengan jasad orang yang telah meninggal.
Sumber:
~ Syaiful Amin~
Pendalaman Materi Sejarah Indonesia PPG Dalam Jabatan
© Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
Pendalaman Materi Sejarah Indonesia PPG Dalam Jabatan
© Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
Komentar
Posting Komentar